Merubah Kelemahan Menjadi Kelebihan

Seorang sahabat bertanya kepada saya tentang bagaimana caranya mengatasi kelemahan sehingga kelemahan tersebut bisa menjadi kelebihan. Tentu ini adalah pertanyaan yang bagus yang bisa kita diskusikan, dan saya akan mencoba menjelaskan dengan segala keterbatasan yang saya miliki.

Pada tulisan saya sebelumnya, kita diajak untuk mengenal diri, yakni dengan cara mengenal kelemahan dan kelebihan diri. Ketika kita bisa mengetahui kelemahan-kelemahan, maka kita bisa berupaya seoptimal mungkin untuk meminimalisir kelemahan tersebut, atau akan lebih baik lagi jikalau kita bisa merubah kelemahan ini menjadi sebuah kelebihan. Sebenarnya ini bisa berarti juga, bagaimana kita bisa menutupi kelemahan kita dengan kelebihan yang kita miliki.

Yang jadi pertanyaannya adalah, apakah kita benar-benar telah mengenal kelemahan-kelemahan kita. Benarkah itu merupakan kelemahan, atau jangan-jangan sebenarnya karena kita belum mencoba untuk mendayagunakan secara optimal saja sehingga kita menyangkanya itu sebuah kelemahan. Contoh, saya dulu merasa bahwa saya itu grogian, suka demam panggung. Kalau mau pentas atau tampil di muka umum saya suka deg-degan, cemas dan tidak enak perasaan. Alhasil saya menjadi tidak berani untuk tampil di muka umum, saya takut untuk pentas di panggung. Tapi ternyata, ketika saya dipaksa untuk tidak punya pilihan, saya harus maju ke depan, tampil di muka umum, mementaskan kemampuan, saya bisa kok. Demam panggung, grogi, deg-degan itu iya, tapi setelah kita tampil dan memulai aksi, semuanya itu hilang, kita enjoy dan bisa memberikan yang terbaik. Andai saja saya dulu memvonis bahwa ini adalah sebuah kelemahan, mungkin saya tidak akan pernah merasakan asyiknya menjadi MC, menjadi motivator, menjadi pembicara, menjadi trainer bahkan menjadi vokalis band.

Nah, contoh yang diatas adalah contoh kelebihan yang divonis sebuah sebuah kelemahan karena tidak berani untuk mencobanya. Sekarang kita ambil contoh lagi kelemahan yang memang benar-benar kelemahan. Jika kita termasuk orang-orang yang lemah dalam urusan teknis, maka ini berarti kita harus menguatkan kemampuan-kemampuan konsep. Agar kita bisa berperan dalam menyalurkan kemampuan konsep, berarti kita harus berada pada jajaran manajerial ketika kita bekerja, untuk bisa mencapai posisi itu, maka kita harus melayakkan diri dan mengaktualisasikan diri bahwa kita memang hebat di konsep. Jadilah kelemahan kita di kemampuan teknis tertutupi oleh kelebihan kita dalam bidang kemampuan konsep.

Jika kita adalah pelupa, maka kita optimalkan alat atau media pengingat. Sekarang sudah banyak smart phone yang memudahkan kita memanaj penjadwalan atau agenda. Kita akan diingatkan oleh itu. Kita juga bisa membiasakan menulis di agenda harian, menulis yang seringkali kita baca bisa membuat kita ingat. Atau jika kita seringkali lupa kalau menyimpan sesuatu, maka biasakanlah kita menyimpan sesuatu pada tempat yang tidak suka berubah-berubah. Jika kita suka lupa nyimpan arsip kerja, maka biasakan potret dengan otak meja dan lemari kerja kita sebelum jam istirahat atau sebelum pulang kerja.

Ketika kita menemukan bahwa kelemahan kita adalah pada rasa malas berlebih, maka segeralah inventarisir dampak negatif dari sikap malas tersebut. Semakin banyak kau temukan dampak negatif dan kerugian yang diderita akibat kemalasan, maka akan semakin termotivasi diri kita untuk memperbaiki sifat malas ini. Lakukan sungguh-sungguh untuk bisa merubahnya, tentu saja awali dengan paksaan. Menerapkan sanksi-sanksi diri apabila kita malas. Misal kalau malas ini kita harus sedekah sebesar sekian kepada anak yatim, dan seterusnya. Nah apabila kemalasan itu mampu kita taklukan, kita bisa menuliskan pengalaman kita dalam sebuah buku berjudul “Kiat-Kiat Membuhun Rasa Malas”. Tuh kan keren banget jadinya.

Jadi, tugas kita bukan berarti harus selalu bisa merubah kelemahan menjadi kelebihan, tapi tugas kita adalah bagaimana meminimalisir kelemahan yang kita miliki, dengan proses perbaikan yang tiada henti serta dengan pengoptimalan kelebihan diri yang kita miliki, Siap?

Iklan

4 responses to “Merubah Kelemahan Menjadi Kelebihan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s