Berani Bermimpi dan Meyakini Ketercapaian Impian

Berani bermimpi dan meyakini ketercapaian impian adalah dua sikap yang jangan dipisahkan. Dua sikap ini ibarat jodoh, akan indah bila dipertemukan, dan akan indah bila dibiarkan bersama, bertautan. Nah, dalam kesempatan ini saya akan mencoba untuk menjelaskannya, tentu dengan kesederhanaan pengetahuan yang saya miliki.

Mimpi itu akan datang pada orang yang terlelap (tidur) dan impian akan muncul bagi orang yang terjaga. Terjaga dalam arti yang lebih luas, bukan dalam artian tidak tertidur saja, tapi juga dalam artian kita melek hidup, sadar hidup dan bersemangat membangun kesuksesan kehidupan. Tapi berani bermimpi yang saya maksud artinya adalah berani membangun impian, dan ini adalah perbuatan orang terjaga.

Mungkin Anda mengenal konsep menuliskan 100 impian. Dimana Anda diminta untuk menuliskan 100 impian Anda, dan seiring perjalanan waktu Anda akan mencoret impian-impian tersebut satu per satu. Mencoretnya bukan karena impian tersebut dirasa terlalu berlebihan, tapi mencoretnya karena impian tersebut sudah tercapai. Sebenarnya Anda bisa menuliskan impian lebih dari seratus. Silakan jika mau menuliskannya seribu, atau pun sejuta impian. Tapi menurut saya jika harus memikirkan seribu impian saat ini, bisa jadi kita akan pusing tujuh keliling, menuliskan seratus impian saja banyak yang pusing. Lebih baik menuliskannya kala impian itu ada, mencicil untuk menuliskan impian, karena impian akan terus bermunculan seiring waktu.

Jujur, sebelumnya saya adalah pribadi yang tidak punya banyak impian terutama dalam hal materi duniawi. Saya cenderung merasa cukup dengan apa yang ada dan tidak ingin memiliki sesuatu yang wah. Dulu saya tidak memiliki impian untuk memiliki rumah yang “bagus”, tak pernah bermimpi untuk memiliki mobil. Melihat gejala ini akhirnya mertua saya bertindak cermat, ia sodorkan buku-buku karya Ippho Santosa. Mertua saya suka menceritakan tentang sosok ini, bahkan mertua saya suka menjelaskan persamaan antara saya dan Ippho, yakni sama-sama penulis, sama-sama motivator dan sama-sama pengusaha. Tentu dalam skala yang berbeda, saya dalam proses merintis sementara Ipho sudah dalam proses memelihara dan terus membangun. Setelah membaca buku dan juga berdiskusi dengan mertua, maka berubahlah saya. Saya tidak lagi terlalu egois, ya saya boleh merasa cukup dalam kesederhanaan, tapi anak dan istri belum tentu mereka benar-benar bisa enjoy.

Saya punya impian untuk segera punya rumah di tempat yang strategis, dekat dengan tempat usaha, dekat dengan pusat pemerintahan, dekat dengan rumah sakit, dekat dengan pusat perbelanjaan, dan dekat dengan pusat kota. Alhamdulillah tercapai dalam waktu yang relatif singkat. Saya ingin punya mobil yang tampak gagah untuk berpetualang, asyik di bawa mudik dan istri serta orang tua dan mertua menyukainya, alhamdulillah dalam waktu relatif singkat impian tersebut terwujudkan. Saya punya impian membuat novel yang diapresiasi banyak orang, mejeng di toko-toko buku besar, dan ternyata prosesnya begitu mudah, impian pun terkabulkan. Saya masih punya banyak impian, dan saya yakin Allah Maha Mengabulkan.

Untuk meraih impian-impian tersebut tentu saja diawali dengan adanya keberanian untuk bermimpi. Karena jika kita tidak berani bermimpi, terlalu ribet berhitung dalam menentukan impian, maka bisa jadi kita tidak akan mudah memiliki impian. Memiliki impian saja kita tidak mudah, apalagi mencapainya. Jadi please, berani dulu untuk bermimpi, lalu yakin impian akan terkabulkan dengan indah. Teman saya seorang trainer pun menyatakan bahwa jangan terlalu pusing memikirkan caranya bagaimana impian kita akan terkabul. Ya benar, berikhtiar dan berporseslah, tapi jangan terbebani dengan impian, melainkan kita harus merasa tertantang dan bersemangat untuk mewujudkannya.

Meyakini bahwa impian akan tercapai adalah sesuatu yang memang harus kita lakukan. Jikalau kita tak yakin, ngapain bermimpi. Keyakinan adalah modal, dan modal inilah yang akan membuat kita ringan melangkah untuk melakukan ikhtiar, bersemangat berproses dan bertindak untuk pencapaian impian. Keyakinan ini memberikan kita kaba gembira, bahwa kebahagiaan akan ketercapaian impian benar-benar ada di depan mata. Keyakinan yang membahagiakan, dan akan lebih bahagia kala kita benar-benar telah mencapai impian tersebut. Jadi apa ruginya untuk yakin, yang rugi malah ketika kita selalu ragu.

Baiklah sahabat, sekarang tuliskan impian-impian yang ingin sahabat capai. Yakinlah bahwa impian-impian tersebut akan terwujud. Siap?

Iklan

7 responses to “Berani Bermimpi dan Meyakini Ketercapaian Impian

  1. mantaap kang… sy sendiri jujur belum bisa memantapkan diri ini tuk mampu meraih impian, ato mungkin sy sendiri belum tau apa potensi yang sy miliki,,,. semoga sy mampu memaksimalkan apa yg sy miliki

  2. Benar juga Bang, menuliskan mimpi, dan target harian, bulanan, dan tahunan, biar planning ke depan terencana rapi..
    Keren bang, salam sukses selalu..

  3. siap. dulu dhe pernah takut bermimpi lho mas, karena ada satu mimpi dhe yang ‘gagal’ dan itu rasanya sakit banget. butuh waktu lama, sampe akhirnya dhe percaya lagi kalo mimpi itu sebuah keharusan. tinggal bagaimana kita mewujudkan mimpi itu, tetap berikhtiar dan berproses semaksimal mungkin. dengan begitu, meskipun mimpi akan gagal lagi, setidaknya kita tidak menyesal karena sudah mengupayakan yang terbaik untuk mewujudkannya. hmm, dhe kayaknya kalo komen disini jadi curhat terus. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s