Biasakan Tentukan Target

Menurut kamus bahasa Indonesia, target adalah sasaran (batas ketentuan dsb) yg telah ditetapkan untuk dicapai. Keberadaan target ini bisa membuat kita bis lebih fokus, lebih terarah dan lebih bersemangat untuk mencapai sesuatu. Dalam tulisan saya sebelumnya, saya membahas tentang impian. Maka bahasan kali ini tujuannya adalah untuk memperkokoh dampak tulisan sebelumnya. Kita memiliki impian, yakin bahwa impian kita akan tercapai, maka supaya lebih terarah, buatlah target kapan impian tersebut ingin kita capai.

Saya akan langsung mencontohkan. Anak saya yang belum genap berusia dua tahun tampak sangat ingin sekali memiliki mobil. Apabila melihat mobil dia suka bilang “bimbim”. Tiap kali dengar suara mobil, ia ingin keluar rumah dan meilhatnya. Yang kadang membuat saya malu adalah ketika anak saya ingin menaiki mobil tersebut. Lalu saya pun akhirnya menjadikan mobil menjadi salah satu impian terdekat saya. Saya targetkan untuk memiliki mobil dalam tempo satu tahun kedepan. Saya pun menuliskan tiga jenis mobil yang saya targetkan untuk dimiliki. Yakni target satu, dua dan tiga. Penentuannya dilihat dari nilai harga mobil tersebut. Impian saya jelas mobil yang pertama, tapi apabila uangnya kurang maka mobil yang kedua, nah kalau mentok uangnya bener-bener pas-pasan saya akan membeli mobil yang ketiga. Saya pun mulai menabung untuk membeli mobil, pancingannya adalah hasil uang celengan anak saya yang hanya berjumlah sekitar Rp. 350.000,-. Saya pun sudah menentukan target waktu yakni setahun, telah menentukan mobil yang dijadikan target untuk dibeli, dan saya pun telah mulai melakukan aksi yakni dengan menabung untuk membeli mobil. Nah, apakah target saya tercapai? Kalau tidak salah, gak nyampe sebulan saya sudah bisa membeli mobil, dan saya berhasil membeli mobil yang diimpikan, yakni mobil yang pertama. Lho kok bisa ya, bisa dan jawabannya sudah saya tulis di artikel sebelum-sebelumnya.

Saya memiliki banyak impian, dan dari impian-impian tersebut saya menentukan targetnya. Jikalau ada target saya yang meleset, maka itu meleset lebih baik. Ketika saya masuk kuliah, saya punya target empat tahun kemudian kala saya lulus saya ingin sekali mendapatkan IPK 3,33 (skala 4,00). Empat tahun kemudian ternyata saya malah dapat IPK 3,40. Meleset 0,07 namun melesetnya ke nilai yg lebih baik. Pun begitu soal pernikahan, sejak SMA saya punya target menikah di usia 27 tahun. Target ini nyaris tercapai, namun ORTU belum merestui karena ingin adik saya dipastikan dulu bisa kuliah. Akhirnya saya undur target tersebut menjadi menikah di usia 29 tahun dengan gadis yang rumahnya tergolong dekat (dekat dari kampung halaman atau dekat dari tempat menjemput nafkah). Saya pun mampu mencapai target tersebut, menikah di usia 29 tahun dengan gadis yang ternyata rumahnya cuma beda kecamatan saja, padahal ketemunya di Facebook.

Begitu pun soal urusan punya anak. Target saya yakni saya ingin punya anak setelah istri wisuda (kebetulan saya menikahi mahasiswi tingkat akhir), dan hamil-lah istri saya beberapa minggu setelah di wisuda. Saya ingin menghadiahi novel untuk kehamilan istri saya dan targetnya novel tersebut telah terbit saat usia kehamilan istri saya empat bulan, lagi-lagi target tersebut tercapai dan novel saya laris manis. Soal usaha juga begitu, saya punya target kedai Mie Janda menjadi kedai mie ayam terlaris di Cibinong dalam tempo dua tahun beroperasi, dan alhamdulillah menurut informasi yang saya dapat kedai saya telah berhasil mencapainya, bahkan sudah belasan kali tayang di TV dan media-media lainnya.

Itu adalah contoh-contoh tentang keterbiasaan saya dengan target. Jadi, jangan pernah Anda berpikir bahwa target hanya akan membebani. Berpikirlah bahwa target adalah tantangan, target adalah arahan yang memperjelas tujuan, target adalah motivator yang baik untuk kesungguhan berikhtiar, dan target adalah bahan evaluasi yang bagus bagi kita, apakah mampu berikhtiar dengan baik, kurang baik atau bahkan sangat buruk.

Buatlah target yang akan membuat kita bersemangat mendayagunakan potensi, jangan membuat target yang terlalu mudah hingga sambil tiduran pun target tersebut tercapai. Semakin tinggi target maka semakin bekerja effektiflah kita. Misal, ada tiga orang blogger menentukan target jumlah postingan mereka dalam satu bulan. Blogger pertama punya target 30 postingan dalam sebulan, Blogger kedua punya target 20 postingan dalam sebulan. Blogger ketiga punya target 10 postingan dalam sebulan. Lalu kita lihat sebulan kemudian. Blogger pertama ternyata hanya mampu mencapai 28 postingan dalam sebulan. Blogger kedua mampu mencapai 22 postingan dalam sebulan. Blogger ketiga mampu mencapai 15 postingan dalam sebulan. Pasti dilihat dari target kita akan sepakat bahwa blogger ketiga paling baik, karena postingannya lebih banyak dari target, blogger kedua pun sama mampu mencapai target bahkan lebih dua postingan. Sementara blogger pertama ia tak memenuhi target, kurang dua postingan lagi. Tapi coba lihat, postingan siapakah yang paling banyak, tentu jawaban kita sama, postingan blogger pertama yang paling banyak. Begitulah target membuat kita bersemangat untuk terus berupaya dengan baik, dengan effektif san sungguh-sungguh. Target yang tinggi membuat orang bisa mendayagunakan potensinya jauh lebih baik lagi.

Sekian penjelasan saya tentang target, semoga bisa dipahami dengan baik. Jadi mulai sekarang, biasakan tentukan target! OK!

Iklan

4 responses to “Biasakan Tentukan Target

  1. Target IA INc. : Closing 4 Customer Buat website
    Target AP : Finishing 22 Naskah BUKU
    Target IA : Nulis 3 buku
    Target Properti : Closing 1 Rumah di akhir Ramadhan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s