Datang Tepat Waktu itu Baik dan Perlu

Apakah Anda pernah merasakan bagaimana tidak nyamannya menunggu lama karena teman yang janjian ketemuan ternyata telat datang lebih dari satu jam. Apakah Anda pernah merasakan bagaimana gelisahnya ketika acara tidak kunjung dimulai hanya gara-gara pengisi acara tak kunjung datang. Apakah Anda pernah merasakan kekecewaan yang mendalam ketika klien datang terlambat dari waktu yang telah Anda sepakati bersama padahal jadwal Anda sangatlah padat. Kata orang menunggu memang hal yang paling membosankan, namun bagi banyak orang, terlambat adalah hal yang telah dibiasakan. Saya yakin Anda umumnya pernah merasakan bagaimana tidak asyiknya menunggu, tapi saya pun besar keyakinan bahwa umumnya Anda suka datang terlambat. Kenapa, karena saya pun merasakannya, ada saat-saat datang tepat waktu sementara yang lain terlambat, dan ada saat yang lain datang tepat waktu sementara saya terlambat. Keterlambatan dengan alasan yang kurang bisa diterima adalah keterlambatan yang kata Bang Haji adalah T-E-R-L-A-L-U.

Saya punya sahabat yang dikenal dengan kebiasaan terlambatnya yang parah. Kalau janjian ketemuan ia datang terlambat cukup lama. Nah yang lebih parah saat ia menyelenggarakan acara dan saya diminta menjadi pengisi acara, justru acaranya yang terlambat bahkan lebih dari satu jam. Bukan sekali dua kali ia terlambat, makanya jadilah status tukang terlambat melekat pada dirinya. Saya akan merasa heran, justru ketika ia berhasil datang tepat waktu, kayaknya sebuah keajaiban gitu. Saua kritisi teman saya itu, tetapi selalu saja punya banyak alasan. Ya sutralah.

Kebiasaan terlambat umumnya kita (termasuk saya), membuat kita mengenal apa yang disebut jam karet. Kalau ada undangan acara jam 08.00 WIB, maka kita sudah mengerti dan meyakini bahwa acara akan dimulai sekitar jam 09.00 WIB. Panitia pun telah mengalokasikan waktu keterlambatan, mengikuti kebiasaan jam karet ini. Para peserta pun sudah punya kepercayaan pada jam karet ini. Ternyata jam karet itu selisihnya sekitar satu jam dari jam oroginal, hehe.

Kebiasaan untuk datang tepat waktu ditempa ketika saya mengkiti KMIB (Kelompok Mentoring Inspirasi Bisnis) dan KMB (Kelompok Mentoring Bisnis). Saat saya KMIB, setiap terlambat satu menit dikenakan denda sebesar Rp. 10.000,-. Bayangkan kalau kita yang terbiasa terlambat satu jam (60 menit). Berarti kita harus membayar Rp. 600.000,- sebagai denda keterlambatan. Sayang kan? Saat saya KMB setiap terlambat satu menit didenda Rp. 5.000,-. Teman saya ada yang terlambat sampai dengan 22 menit, alhasil dia harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 110.000,-. Uang segitu mungkin tidak seberapa, tapi rasa malu atas keterlambatan itulah yang akhirnya terbentuk. Rasa khawatir atau takut terlambat yang terbentuk. Maka kebiasaan tepat waktu pun akan terbentuk.

Gara-gara KMIB dan KMB itu, saya kalau janjian ketemuan berupaya datang sebelum waktu yang ditetapkan. Misal untuk ketemuan atau menghadiri acara yang butuh perjalanan 40 menit, saya biasanya berangkat satu jam sebelumnya, jadi kalau pun ada macet saya masih punya waktu tambahan dan jatuh-jatuhnya nanti tetap tidak terlambat namun nyaris telat saja. Tapi bisa jadi saya tetap terlambat dengan alasan-alasan yang tidak bisa dihindari, seperti ban bocor, atau anak rewel dan nangis keras sehingga susah untuk ditinggalkan. Sebenarnya alasan seperti ini pun masih susah diterima bagi mereka yang disiplin waktu.

Gara-gara kebiasaan untuk berupaya tepat waktu ini, saya pun kadang tidak mengampuni mereka yang terlambat lebih dari setengah jam. Saya masih terlalu baik dengan memaklumi mereka yang telat beberapa menit saja, saya anggap mungkin akibat perbedaan waktu di jam tangan atau jam ponsel masing-masing. Saya mungkin akan menampilkan ketidaksukaan bagi mereka yang terlambat lebih dari lima belas menit, dan saya akan membiasakan menghukum mereka yang terlambat lebih dari setengah jam.

Kemarin, seorang mahasiswi yang sedang mengerjakan tugas akhir meminta waktu saya untuk ketemuan dan melakukan wawancara serta penelitian. Kami bersepakat untuk ketemuan jam 16.00 WIB.  Tapi ternyata ia datang malah jam 17 lewat. Akhirnya saya pun meninggalkan si mahasiswi tadi. Dia mungkin kecewa, tapi seharusnya ia belajar untuk tidak mengecewakan, terlebih dirinyalah yang butuh, bukan saya. Saya belajar untuk tepat waktu, dan saya pun belajar untuk memberikan pelajaran bagi mereka yang terbiasa terlambat.

Mentor bisnis saya jauh lebih tegas dalam hal ketepatan waktu ini. Beliu akan meninggalkan seseorang yang janjian dengannya apabila orang tersebut terlambat beberapa menit saja. Pernah suatu hari mentor bisnis saya datang ke tempat pertemuan dengan mengendarai sepeda motor. Saya kaget, karena orang sehebat beliau mau pakai motor. Ternyata alasannya karena beliau takut terlambat jika memakai mobil. Sebelum berangkat beliau janjian dengan partnernya, namun partnernya terlambat. Keterlambatan partnernya ini mengakibatkan skedul beliau jadi kena dampaknya jeleknya. Akhirnya beliau lebih memilih berpanas-panasan daripada terlambat. Sungguh sebuah kedisiplinan yang sangat patut saya tauladani. Jadi pantas kalau beliau suka menghukum orang lain atas keterlambatan yang mereka lakukan. Sikap yang tegas dan malah membuat beliau semakin berwibawa.

Kalau kita mau jujur, memang datang tepat waktu itu adalah perbuatan yang bukan hanya baik, tapi juga perlu. Kita lho yang harusnya merasa perlu. Ketika kita membiasakan datang tepat waktu, maka ini artinya kita sangat menghargai waktu, sangat menghargai orang-orang yang akan kita temui, sangat menghargai acara yang akan diselenggarakan, sangat menghargai ilmu yang akan kita dapatkan. Nah ketika kita melakukan itu, maka kita semakin elegan, semakin berkelas, semakin berkarakter baik. Jadi, mulai sekarang saya semakin bersemangat untuk berupaya tepat waktu. Tegur saja saya bila saya terlambat saat kita janjian untuk bertemu, atau saat Anda mengundang saya sebagai pembicara atau pengisi acara. Tak apa, saya pasrah, hehe.

Iklan

4 responses to “Datang Tepat Waktu itu Baik dan Perlu

  1. pernaaaah, pernah smua itu A
    dan menunggu adalah hal yang membosankan..!

    biaanya klo jannian sama orang yang ngaret jam dibuat maju lebih cepat karna pasti tau dia akan dtang terlambat,..jika tak berhasil tinggalkan saja 😀

    yakin nih siap ditegor klo telat 😛

    ** apa kabar A..
    saya teramsuk

  2. tepat waktu emang perlu pembiasaan dan komit kang, sy juga masih mencoba agar tapat waktu. misal ketika datang ikut kajian ^_^

  3. Wah, sudah nggak terhitung saya kecewa karena harus menunggu orang atau acara yang molor waktunya. Supaya orang lain nggak merasakan kekecewaan yg sama, saya berusaha untuk tepat waktu…. Kekecewaan itu rasanya sungguh nggak enak 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s