Pelatihan Standar Pelayanan Mie Janda

Mie Janda adalah kedai yang berpusat di Cibinong. Mulai beroperasi pada tanggal 5 Maret 2008 dan kini telah memiliki tiga outlet di Cibinong dan Bogor Utara. Pada awal pendiriannya, Mie Janda buka dengan menggunakan tenda di parkiran depan kantor salah satu pemiliknya. Namun hanya dua bulan saja di sana dan akhirnya Mie Janda pindah ke kedai di depan SMAN 1 Cibinong. Selang setahun pindah kembali ke kedai yang lebih luas yang letaknya hanya sekitar 20 meter dari tempat semula. Persis di depan SMPN 1 Cibinong kini kedai Mie Janda berdiri, dan dua outlet lainnya terletak di Jl. Raya Cikaret, Cibinong serta di Jl. Raya Cibuluh, Bogor Utara.

Seiring perjalanan waktu, satu per satu stasiun televisi baik lokal mau pun nasional meliput kedai Mie Janda, bahkan hingga saat ini sudah sekitar 13 kali Mie Janda tayang di televisi. Begitu pun di tabloid, majalah dan surat kabar. Bahkan di salah satu tabloid kuliner ternama, Mie Janda dijadikan sebagai tempat wisata kuliner nasional yang direkomendasikan. Maka wajar jika akhir pekan pengunjung kedai ini tidak hanya berasal dari warga sekitar saja, tapi juga banyak dari luar kota bahkan luar pulau dan luar negeri. Dibalik kesederhanaan kedai ini, ternyata tersimpan pesona yang luar biasa, sehingga kedai ini nyaris setiap hari selalu saja ramai dijejali pelanggan.

Pengunjung kedai Mie Janda itu heterogen, dari mulai pelajar sampai pengajar, dari mulai karyawan sampai pengusaha, dari mulai pembaca sampai penulis, dari mulai anak-anak sampai orang tua. Mie Janda tidak ekslusif, semua segmentasi pasar diraihnya, baik kelas bawah, menengah hingga kelas atas. Semua boleh datang dan menikmati Mie Janda, tentu saja disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Tinggal pilih Janda Kembang yang paling murah, atau Janda Super Jumbo yang paling mewah.

Banyaknya pelanggan dari kelas menengah atas, membuat kedai Mie Janda dituntut memberikan pelayanan jauh lebih baik dari pada kedai mie pada umumnya. Pengunjung ingin pelayanan di Mie Janda seperti pelayanan di restaurant, tentu saja ini PR bagi kami dan kami pun berupaya untuk meningkatkan pelayanan yang kami berikan. Mie Janda tentu saja tidak akan sebaik pelayanan restaurant dan tempat-tempat makan yang mahal, karena di tempat seperti itu pelayanan yang super menyamankan memang sesuai dengan harga yang harus konsumen bayar. Mie Janda adalah kedai dimana sajiannya memang menggunakan harga rasional, hampir sama dengan kedai-kedai sederhana pada umumnya. Hanya Mie Janda tetap berupaya untuk jauh lebih baik dari pada pelayanan kedai-kedai pada umumnya.

Karena alasan ini, pada tanggal 1 Ramadhan yang bertepatan dengan tanggal 10 Juli 2013, Tim Manajemen Mie Janda menyelenggarakan pelatihan bagaimana sistem pelayanan di Mie Janda yang terstandar. Jika teori sudah dipaparkan pada tanggal 5 Juli 2013, maka pada kesempatan itu lebih menekankan pada praktek dan ruh pelayanan. Karyawan dilatih bagaimana menyapa pelanggan, memberikan menu, menjelaskan menu sampai dengan menghidangkan menu yang baik. Diadakan juga pelatihan bagaimana menjadi kasir yang baik sesuai standar Mie Janda. Tampak memang masih banyak yang grogi, kurang pandai berkomunikasi dan berimprovisasi, tapi justru karena itulah ada pelatihan, supaya mereka berangsur bisa lebih baik.

Setelah praktek selesai, tugas saya untuk menanamkan ruh pelayanan. Saya menyatakan bahwa pelayanan adalah jasa, dan jasa itu bersifat intangible yakni tidak bisa dilihat dan tidak bisa diraba, hanya bisa dirasakan. Yang bisa merasakan adalah hati, dan setiap manusia adalah mahluk perasa, mereka punya hati. Maka ruh dari pelayanan itu letaknya ada pada hati. Kesungguhan hati dalam melayani menjadi kunci, ketulusannya bisa terasakan oleh hati pelanggan. Tidak dibuat-buat, tidak pula karena tuntutan pekerjaan, tapi memang telah terjiwai dengan baik, dan telah menjadi keikhlasan hati.

Saya tekankan bahwa karyawan bukanlah robot, bukan pula mesin, tapi manusia yang punya hati. Gunakan standar pelayanan sesuai prosedur, tapi juga sesuaikan dengan situasi, konsidi, toleransi, pandangan dan jangkauan. Saya pun menjelaskan apa yang dimaksud itu semua, hal ini agar karyawan tidak menjadi kaku karena ingin sesuai standar yang ada, padahal improvisasi itu baik agar suasana menjadi cair, tentu improvisasi yang tetap pada pakemnya, bukan kebablasan ngobrol ngaler-ngidul bahkan sampai tukeran nomor hand hpone karena pelanggannya gadis cantik.

Alhamdulillah, pelatihan di bidang pelayanan ini selesai juga. Saat adzhan maghrib tiba kami pun berbuka puasa bersama dengan ta’jil yang tersedia, lalu pergi shalat berjamaah ke masjid dan kembali lagi untuk makan bersama. Menjelang isya acara yang penuh rasa kekeluargaan ini selesai dan setiap karyawan berhak untuk memilih shalat tarawih di masjid atau mushola yang mereka inginkan. Tanggal 1 Ramadhan sengaja kami libur dan fokus ke pelatihan dan buka puasa bersama. Tanggal 2 Ramadhan semua kedai Mie Janda kembali buka dan beroperasi mulai jam 16.00 – 24.00 WIB. Ramadhan tahun lalu menurut kru MGS, Mie Janda terpilih menjadi tempat makan terfavorit untuk ngabuburit versi Radio Megaswara Bogor. Jadi, Ramadhan kali ini smeoga juga tetap menjadi tempat terfavorit untuk berbuka dan makan malam Ramadhan. Hayu ke Mie Janda! 🙂

Iklan

One response to “Pelatihan Standar Pelayanan Mie Janda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s