Ceria Mengikuti Ceramah Ramadhan

Di masjid terdekat dengan rumah saya, setiap ba’da shalat isya dan ba’da shalat subuh di bulan Ramadhan ada tausyiah (ceramah) dari seorang ustadz. Setiap harinya ustadznya bergantian, ada ustadz yang telah biasa berceramah di muka umum, ada juga yang tampak masih kikuk karena tak biasa berceramaah di hadapan banyak jamaah. Jadwal di atur sedemikian rupa, sehingga dibutuhkan banyak ustadz agar jamaah tak bosan disuguhkan wajah yang itu-itu saja selama sebulan. Ceramah ini biasanya disebut kultum. Dulunya, definisi kultuh itu adalah kuliah tujuh menit, yakni ceramah yang lamanya hanya tujuh menit saja. Tapi belakangan kultum pun disesuaikan dengan kebutuhan, kadang jadi kuliah tujuh belas menit, kadang juga jadi kuliah terserah antum, alias lama waktunya bagaimana ustadz saja.

Saya pun berpikir, strategi pengurus DKM menghadirkan ceramah Ramadhan saat ba’da shalat Isya (sebelum shalat tarawih) dan ba’da shalat subuh ini adalah strategi yang cerdas. Kenapa, karena di bulan Ramadhan jamaah masjid jauh lebih banyak dari bulan-bulan biasanya. Jika di luar bulan Ramadhan jamaah masjid yang hadir di masjid ini mungkin kisaran empat puluh orang, maka di bulan Ramadhan jamaah yang hadir bisa mencapai ratusan orang. Sehingga isi dari tausyiah pun bisa didengar oleh banyak orang. Soal diresapi dan diamalkan atau tidak itu soal hidayah, hanya Allah yang berkuasa, tapi ikhtiar pengurus DKM masjid ini patut diacungi jempol.

Nah, lalu bagaimana sikap kita selaku jamaah, selaku orang awam dalam hal agama dalam menyikapi maraknya kegiatan ceramah Ramadhan ini. Berikut masukan dari saya khususnya untuk diri saya sendiri dan umumnya bagi siapa saja yang ikhlas membaca tulisan ini:

  • Biasakan shalat berjamaah di masjid atau mushola, karena ini pahalanya berlipat ganda dibanding hanya shalat sendirian. Apalagi jika amalan ini dilakukan di bulan Ramadhan, dimana Allah seolah mengobral pahala, wah asyik banget deh kita.
  • Siapkan diri untuk menjadi gelas kosong, sehingga saat ceramah Ramadhan disampaikan, ilmu bisa tertuang dengan baik ke otak kita. Bila memang diperlukan, silakan bawa alat tulis agar inti tausyiahnya tercatat. Setelah pahala shalat berjamaah didapat, kita pun bisa mendapatkan pahala tambahan karena menghadiri majelis ilmu. Ini keren.
  • Kita ambil intinya, resapi hikmahnya, lalu coba aplikasikan dalam kehidupan. Misal tema tausyiah adalah keikhlasan berpuasa, maka cobalah kita amalkan untuk lebih ikhlas berpuasa, tidak ngedumel karena adzan maghrib tak kunjung tiba.
  • Punya blog, atau akun jejaring sosial yang lain, silakan share apa yang kita dapat ke orang lain. Jika tidak di dunia online, kita bisa men-share-nya di dunia offline (alias dunia sebenarnya).
  • Jika kita ada acara buka puasa bersama dan dipinta untuk memberikan kultum, maka kita bisa membawakan materi yang sudah kita dapat. Saya juga suka gak pede kalau memberikan ceramah agama karena akhlak belum baik, tapi kalau dipinta dan memungkinkan ya ambil saja biar pahala juga makin nambah.

Ramadhan memang bulan bonus, dimana kita bisa mendapatkan banyak pahala, banyak hikmah, banyak manfaat. Ramadhan adalah bulan penuh semangat, penuh gairah untuk ibadah, dan bulan dimana keadaan begitu mendukungnya, jadi mari nikmati bulan penuh cinta ini dengan ceria dan ikhlas hati. Mari semangat menuntut ilmu, mumpung lagi banyak yang memberi. Ceria mengikuti ceramah Ramadhan, wow semoga kita banget.

Iklan

5 responses to “Ceria Mengikuti Ceramah Ramadhan

  1. lebih baik pakai nama KulKas (Kuliah Ringkas) hehe..
    mantap bro, semoga mendulang pahala sebanyak2-nya
    dan pengunjung MJ juga sebanyak2-nya ^_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s